Berawal dari Hobi Masak, DIPA_SEAFOOD Kini Jadi Favorit Pecinta Seafood

PANGKALPINANG— Tak semua kisah sukses UMKM berawal dari modal besar. Bagi Dinda Padillah dan Faldianzah, pasangan muda asal Pangkalpinang, keberanian menanggalkan gengsi justru menjadi kunci membangun DIPA_SEAFOOD, yang kini mampu meraup omzet puluhan juta rupiah per bulan.

Perjalanan DIPA SEAFOOD bermula dari dapur rumah. Dinda mengaku, awalnya ia hanya menyalurkan hobi memasak seafood untuk keluarga. Tanpa disadari, masakan rumahan tersebut kerap mendapat pujian dari teman-teman yang mencicipi.

Banyak yang menyebut rasanya enak, bahkan mendorong agar olahan seafood tersebut dijual secara serius.

“Dari situ saya mulai melihat peluang,” tutur Dinda. Dengan modal nekat, berbekal resep andalan keluarga dan dukungan sang pasangan, usaha kecil-kecilan itu pun resmi dimulai.

Keputusan terjun ke dunia usaha bukan tanpa pertimbangan. Di wilayah tempat tinggal mereka, tempat makan seafood yang enak dan terjangkau terbilang masih minim. Padahal, peminat olahan laut cukup tinggi.

Jika ingin menikmati seafood dengan harga ramah di kantong, warga harus menempuh jarak yang tidak dekat. Celah inilah yang kemudian dimanfaatkan Dinda dan Faldianzah untuk menghadirkan olahan seafood segar dengan harga bersahabat, khususnya bagi masyarakat sekitar.

Namun, perjalanan membangun DIPA_SEAFOOD tidak selalu berjalan mulus. Salah satu ujian terberat datang ketika ada oknum tidak bertanggung jawab yang mencoba merusak lapak jualan mereka, bahkan sampai merobek tenda tempat berjualan.

Peristiwa itu sempat membuat semangat runtuh dan keinginan menyerah muncul di benak keduanya.

“Waktu itu sempat down, tapi alhamdulillah dukungan keluarga dan orang-orang terdekat membuat kami bangkit lagi,” ujarnya.

Dukungan lingkungan sekitar menjadi suntikan semangat untuk kembali berdiri. Dengan tekad baru, DIPA_SEAFOOD kembali beroperasi dan perlahan mulai dikenal luas oleh pelanggan.

Setiap hari, perjuangan dimulai sejak pagi. Proses persiapan memasak dilakukan sejak pukul 06.00 hingga 10.00 WIB. Setelah itu, sekitar pukul 11.00 WIB, mereka mulai menata lapak street food di kawasan Wilhelmina Park (Taman Sari).

Aktivitas berjualan biasanya berlangsung hingga pukul 22.00 WIB, menutup hari panjang yang penuh kerja keras dan peluh.

Bagi Dinda dan Faldianzah, konsistensi rasa adalah kunci utama menjaga loyalitas pelanggan. 

Bahan baku selalu dipastikan segar, bumbu digunakan dengan takaran melimpah dan tekstur masakan dijaga agar tetap lembut. “Prinsip kami sederhana, rasa tidak boleh berubah sejak hari pertama,” ujarnya.

Meski omzet terbilang menjanjikan, tantangan tetap ada. Cuaca menjadi salah satu faktor yang sangat memengaruhi penjualan. Saat hujan turun, jumlah pembeli biasanya menurun.

Namun, diungkapkan keduanya bahwa hal tersebut dianggap sebagai bagian dari dinamika usaha kaki lima yang harus dihadapi dengan kesabaran.

Soal mimpi, pasangan ini tak berhenti bermimpi besar. Keinginan membuka rumah makan seafood sendiri sudah ada, agar pelanggan bisa menikmati hidangan dalam suasana yang lebih nyaman bersama keluarga dan orang-orang terkasih.

Rencana membuka cabang pun telah disusun, meski semuanya diserahkan pada waktu dan kelancaran rezeki.

“Yang terpenting sekarang kami jaga dulu rasa dan kepercayaan pelanggan,” katanya.

Bagi Dinda Padillah dan Faldianzah, usaha bukan semata soal keuntungan. Lebih dari itu, usaha adalah tentang menjaga cita rasa, melakukan evaluasi setiap hari, dan terus belajar dari kekurangan.

Sebab, perjalanan DIPA SEAFOOD bukan tentang seberapa cepat sampai di tujuan, melainkan tentang keberanian untuk terus melangkah, bangkit dari jatuh, dan bertahan hingga mimpi itu benar-benar menjadi nyata. (***)

Leave A Reply

Your email address will not be published.