Suasana Awal Pengasingan di Gunung Menumbing

Oleh : Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH

Langit Pangkalpinang siang itu menyambut sebuah kisah yang kelak tercatat dalam sejarah perjuangan bangsa. Tanggal 22 Desember 1948, pukul 13.45 WIB, pesawat pembom B-25 Mitchell mendarat di Lapangan Udara Kampung Dul. Dari dalamnya, keluar tokoh-tokoh penting Republik Indonesia: Drs. Muhammad Hatta, Wakil Presiden; Komodor Udara Suryadarma; AG. Pringgodigdo, Sekretaris Negara; dan Mr. Assaat, Ketua BP KNIP.

Mereka tidak disambut dengan upacara kehormatan, melainkan barisan senjata. Dua mobil mengangkut rombongan ini, dikawal ketat sebuah jeep dan truk penuh tentara Corps Speciale Troepen. Jalanan panjang dari Pangkalpinang menuju Mentok terasa semakin sunyi, seakan menyadari bahwa para pemimpin bangsa tengah dibawa menuju sebuah masa pengasingan.

Menjelang senja, tepat pukul 18.30, iring-iringan berhenti di sebuah bangunan tua di puncak Bukit Menumbing. Gedung ini dulunya adalah Berghotel Menumbing, dibangun antara 1927–1930 oleh perusahaan tambang timah BTW (Bankatinwinning). Dahulu, ia megah. Namun pada sore itu, di hadapan para pemimpin Republik, yang tampak hanyalah sisa kejayaan masa lalu—kusam, sepi, dan terlupakan.

Lantai pertama gedung menjadi tempat tinggal mereka. Ada ruang duduk sederhana, kamar tidur di kiri dan kanan, serta kamar mandi seadanya. Di lantai dua, Kepala Pemerintahan Mentok, Abidin, bersama seorang pensiunan kopral KNIL dari Jawa sudah menunggu. Mereka menunjukkan kamar tidur dengan empat ranjang, sebagaimana dicatat Mulyana dkk. (2003:14).

Renovasi bangunan sedang dilakukan. Pintu dan jendela baru saja dicat—catnya bahkan masih basah. Namun lantainya berdebu, tanpa listrik, tanpa aliran air. Perabot? Tidak ada sama sekali, bahkan kursi untuk sekadar duduk.

Malam pertama di Gunung Menumbing terasa dingin dan sunyi. Roti menjadi santapan satu-satunya, dimakan sambil berdiri di sekitar lampu minyak kecil. Untuk tidur, masing-masing hanya mendapat kasur, bantal, selimut, dan kelambu—yang ironisnya tak dapat dipasang karena tak ada tali maupun paku. Mandi pun tak terbayangkan; air belum tersedia.

Begitulah awal hari-hari pengasingan para pemimpin bangsa di puncak Menumbing. Di tengah kesunyian dan keterbatasan, semangat mereka tetap menyala—menjadi bagian dari perjalanan panjang menuju kemerdekaan yang hari ini kita rayakan.

Dirgahayu Republik Indonesia
17 Agustus 1945 – 17 Agustus 2025

Keterangan gambar: Ruang Tidur Muhammad Hatta di Pesanggrahan Menumbing
Sumber: Buku “Kenang Mengenang Membawa Kemenangan” karya Akhmad Elvian dan Ali Usman

Leave A Reply

Your email address will not be published.