Cegah Kenakalan Remaja, Siswa SMAN 1 Pangkalpinang Diberi Edukasi

PANGKALPINANG – Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Kep. Babel) kembali melaksanakan sosialisasi Pola Asuh Anak dan Remaja di Era Digital (PAAREDI). Kali ini dilaksanakan di SMAN 1 Pangkalpinang, Selasa (24/10).

Kegiatan ini turut dihadiri oleh Penjabat (Pj) Gubernur Kep. Babel Suganda Pandapotan Pasaribu, Pj Ketua TP PKK Babel Maya Suganda Pasaribu, Kepala Dinas Pendidikan Babel Ervawi, serta para narasumber diantaranya perwakilan dari Ditreskrimum Polda Babel Windu Perdana, dan pihak BNN RI Sri Indrawati.

Di hadapan para siswa/siswi SMAN 1 Pangkalpinang, Pj Gubernur Suganda dalam arahannya menekankan bahwa para remaja harus menghindari pengaruh buruk yang terjadi di era digital. Salah satunya adalah penyalahgunaan pemakaian narkoba.

“Saya mengingatkan para siswa jangan pernah mencoba menggunakan narkoba karena menimbulkan efek ketergantungan dan dapat merusak masa depan kalian,” ujar Pj Gubernur Suganda.

Oleh karena itu, dirinya mengatakan kehadirannya bersama TP PKK Babel untuk memberikan edukasi akan bahaya penyalahgunaan narkoba. Hal itu penting, karena baginya dalam rangka menyongsong generasi emas Indonesia tahun 2045, para remaja perlu diberikan pengetahuan mengenai bahayanya agar terhindar dari hal-hal yang dapat merusak kualitas suatu generasi.

Tak hanya narkoba, isu pernikahan dini jadi topik bahasan yang disampaikan oleh orang nomor satu di Kep. Babel tersebut. Menurutnya banyak dampak negatif yang diakibatkan pernikahan dini. Salah satunya bayi yang dilahirkan nanti bisa mengalami stunting.

“Saat ini waktunya kalian untuk menempuh pendidikan setinggi-tingginya, bukannya untuk berkeluarga. Saya harap kalian menjadi generasi yang tangguh, santun, dan berprestasi untuk membangun Bangka Belitung kedepan,” harapanya.

Sementara itu, Pj Ketua TP PKK Babel Maya Suganda Pasaribu menambahkan pernikahan usia dini bisa berdampak risiko kesehatan yang serius, baik secara fisik maupun psikologis bagi yang melakukannya.

Besarnya risiko yang ditimbulkan dari pernikahan usia dini, tambah dia, memerlukan berbagai upaya sebagai instrumen pencegahan dengan dukungan sejumlah pihak terkait.

“Mereka (remaja) perlu bantuan di sekeliling, mulai dari keluarga, guru, pemerintah, tokoh masyarakat dan agama, serta stakeholder lainnya. Mereka perlu diarahkan dan diberikan gambaran untuk fokus mengejar cita-cita dengan menuntaskan pendidikan,” tuturnya.

Termasuk TP PKK sendiri yang merupakan mitra pemerintah dalam peningkatakan kualitas remaja, memiliki enam strategi program dalam PAAREDI antara lain Keluarga Indonesia Sejahtera Harmonis (Kisah), Keluarga Indonesia Anti Trafficking (Kiat), Keluarga Indonesia Lindungi Anak terhadap Kekerasan seksual (Kilas), Keluarga Indonesia Sehat Anti Narkoba (Krisan), Pembinaan Kesadaran Bela Negara, dan Keluarga Indonesia Sadar Administrasi Kependudukan (Kisak).

Dalam kegiatan tersebut juga, para narasumber menyampaikan beberapa materi, di antaranya aspek hukum perlindungan terhadap anak, dan resiko tinggi penyalahgunaan narkoba pada anak dan remaja. (*)

Leave A Reply

Your email address will not be published.