(Bagian Sebelas dari Tulisan Sungailiat atau Sungaileat, Oleh Dato’ Akhmad Elvian, DPMP)
Perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Pulau Bangka tidak hanya tercatat dalam lembar sejarah, tetapi juga tersimpan dalam ingatan kolektif masyarakat melalui kisah heroik para pejuang. Mereka adalah Pahlawan 5, Pahlawan 12, dan Pahlawan 4—tiga kelompok pejuang yang namanya diabadikan karena keberanian luar biasa melawan pasukan sekutu dan NICA pada masa revolusi fisik.
Pertempuran Puding Besar: Lahirnya Pahlawan 5
Pada dini hari 14 Februari 1946, dentuman senjata memecah keheningan di Puding Besar. Pasukan TRI (Tentara Republik Indonesia) dari Kompi Sungailiat terlibat kontak senjata sengit melawan pasukan sekutu dan NICA. Pertempuran yang berlangsung hingga menjelang pagi itu menelan korban di pihak TRI. Gugur sebagai kusuma bangsa adalah Cik Ali, Raban, Nur, Salim, dan Azli. Kelima nama ini kemudian dikenang sebagai Pahlawan 5—lambang keberanian yang tak tergoyahkan demi mempertahankan kemerdekaan yang baru seumur jagung.
Bentrok di Kilometer 12: Kisah Pahlawan 12
Hari yang sama, sekitar pukul 11.00 WIB, pertempuran kembali berkecamuk di Bukit Ma Andil, Kampung Petaling, tepatnya di kilometer 12. Pasukan TRI dari Kompi Belinyu dan Pasukan Berani Mati berusaha menghalangi laju tentara sekutu dan NICA. Tembak-menembak sengit pun terjadi hingga siang hari.
Belum lama pertempuran selesai, sebuah mobil membawa tujuh anggota TRI Pangkalpinang yang dipimpin Kapten Munzir tiba di lokasi. Mereka langsung diserang oleh tentara NICA, yang sudah bersiaga. Dalam pertempuran tersebut, 12 pejuang gugur: Suardi Marsam, Abdul Somad Tholib, Adam Cholik, Salim Adok, Sulaiman Saimin, Abdul Majid Gambang, Karto Saleh, Kamsen, Ali Samid, Apip Adi, Saman Samin, dan Jamher. Mereka yang gugur kemudian dikenang sebagai Pahlawan 12, simbol pengorbanan tertinggi dalam perlawanan di Pulau Bangka.
Tragedi Nibung: Perjuangan Berakhir dengan Pahlawan 4.
Serangan balasan terus dilakukan pasukan sekutu dan NICA. Pada 12 April 1946, lima pemimpin TRI Bangka tertangkap dan dibawa ke markas militer di Kampung Nibung. Tiga hari kemudian, tepatnya 15 April 1946, empat dari lima tahanan itu dieksekusi mati. Mereka adalah Mayor Muhidin, Kapten H. Safiie, Kapten Yusuf Toyib, dan Kapten Suraiman Arif. Masyarakat Bangka mengenang mereka sebagai Pahlawan 4—empat sosok yang mempertaruhkan nyawa demi tegaknya kemerdekaan Indonesia.
Penghormatan untuk Kusuma Bangsa
Setelah pertempuran berhenti pada Mei 1946, perjuangan bersenjata di Bangka pun berakhir. Namun, semangat para pejuang tetap hidup dalam setiap langkah generasi penerus. Untuk menghormati jasa mereka, pada 8 November 1973, makam para pahlawan digali kembali dan dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Padma Satria Sungailiat. Upacara kenegaraan dilakukan pada 10 November 1973, bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan, sebagai bentuk penghormatan terhadap mereka yang gugur di medan laga.
Kini, nama Pahlawan 5, Pahlawan 12, dan Pahlawan 4 bukan sekadar angka, melainkan kisah pengorbanan yang harus selalu dikenang oleh masyarakat Bangka dan Indonesia. Mereka adalah saksi bisu bahwa kemerdekaan bukan hadiah, tetapi hasil darah dan air mata para pejuang.