PANGKALPINANG – Upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung terus diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor.
PT TIMAH melalui Emergency Response Team (ERT) turut aktif membantu pemadaman karhutla yang terjadi di sejumlah wilayah operasional perusahaan.
Medio Januari hingga 25 Agustus tim pemadam PT TIMAH telah melakukan 97 kali penanganan karhutla yang tersebar di beberapa wilayah, yakni Pangkalpinang, Kabupaten Bangka, Bangka Barat, hingga Kundur.
Kehadiran tim tanggap darurat PT TIMAH dinilai membantu mempercepat penanganan kebakaran, terutama ketika kondisi cuaca panas dan kering meningkatkan risiko terjadinya karhutla.
Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Budi Utama, mengapresiasi keterlibatan PT TIMAH dalam penanganan karhutla di wilayah Babel. Menurutnya, penanganan kebakaran membutuhkan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan, baik pemerintah, BUMN, maupun instansi vertikal.
“Alhamdulillah semua stakeholder termasuk PT TIMAH sudah dipertemukan. PT TIMAH sangat luar biasa dalam membantu kami mempercepat pemadaman karhutla, terutama di musim El Nino Godzilla ini,” kata Budi.
Budi mengatakan, tim pemadam PT TIMAH memiliki respons yang cepat ketika terjadi kebakaran. Koordinasi juga dilakukan melalui grup komunikasi Si Jago Merah Bangka Belitung yang menjadi sarana untuk mempercepat informasi dan penanganan kebakaran.
PT TIMAH sendiri memiliki enam armada pemadam yang ditempatkan di sejumlah wilayah. Dua armada berada di Pangkalpinang, dua di Kabupaten Bangka, satu di Kundur, satu di Mentok Bangka Barat, dan dua unit di Kabupaten Bangka yang tersebar Belinyu dan Sungailiat.

Penempatan armada di sejumlah wilayah tersebut memungkinkan respons lebih cepat ketika terjadi kebakaran, khususnya di wilayah yang membutuhkan dukungan tambahan dalam proses pemadaman.
Budi mengatakan, kontribusi PT TIMAH juga telah dirasakan dalam penanganan kebakaran di wilayah Bangka bagian utara dan Bangka Barat.
“Untuk membantu terutama di wilayah utara, Kabupaten Bangka, responsnya luar biasa. Begitu juga di Kabupaten Bangka Barat sangat membantu,” katanya.
Menurut Budi, tantangan penanganan karhutla tidak dapat dihadapi oleh satu instansi saja. Kolaborasi menjadi kunci agar api dapat segera dikendalikan dan tidak meluas.
“Jika semua stakeholder, baik BUMN, vertikal maupun pemerintah, sudah bersatu untuk membantu sesama, insyaallah kita akan lebih kuat dalam menghadapi cuaca atau musim El Nino Godzilla ini,” ujarnya.
Ia pun menyampaikan apresiasi kepada PT TIMAH yang terus mendukung pemerintah dalam penanganan karhutla di Bangka Belitung.
“Terima kasih banyak buat PT TIMAH yang telah membantu kami pemerintah provinsi. Pak Gubernur juga memberikan apresiasi kepada rekan-rekan, terutama pemadam di PT TIMAH itu sendiri,” katanya.
Dalam penanganan karhutla, salah satu kendala yang dihadapi petugas adalah ketersediaan sumber air. Kapasitas tangki armada pemadam yang terbatas membuat petugas membutuhkan waktu untuk melakukan pengisian ulang apabila tidak ada pasokan air di sekitar lokasi kebakaran.
Budi menjelaskan, armada pemadam umumnya membawa sekitar empat hingga lima ton air. Jika persediaan habis dan tidak tersedia sumber air atau armada penyuplai, petugas membutuhkan waktu sekitar 15 hingga 30 menit untuk mengisi kembali.
“Kalau kita hanya sendiri dan tidak ada langsung supply air, kita harus mengambil air lagi. Itu butuh waktu kurang lebih 15 sampai 30 menit,” jelasnya.
Karena itu, pola kerja bersama melalui tim Si Jago Merah menjadi penting. Kehadiran sejumlah armada dari berbagai instansi memungkinkan proses pemadaman dan suplai air dilakukan secara bergantian.
Pemerintah juga menggandeng Perumda Air Minum untuk mendukung ketersediaan sumber air, termasuk membuka hidran di sejumlah titik yang dapat digunakan untuk mempercepat pengisian air bagi armada pemadam.
Selain memperkuat kesiapsiagaan dan respons pemadaman, Budi mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan tindakan yang dapat memicu kebakaran.
Ia meminta masyarakat tidak sengaja membakar lahan maupun melakukan aktivitas yang berpotensi menimbulkan titik api, terutama ketika kondisi cuaca panas dan lahan kering.
“Mohon kepada seluruh masyarakat, stop, berhenti untuk jahil ataupun sengaja. Jangan usil,” tegasnya.
Ia juga meminta masyarakat ikut membantu melaporkan apabila menemukan tindakan yang sengaja memicu kebakaran.
“Kalau ada yang melihat orang yang sengaja, tolong dibantu untuk penangkapan agar ada efek jera,” katanya.
Budi berharap sinergi antara Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, PT TIMAH dan seluruh pemangku kepentingan tidak hanya dilakukan saat musim kemarau atau ketika ancaman karhutla meningkat.
Menurutnya, kerja sama tersebut perlu terus diperkuat karena kebakaran memiliki dampak luas terhadap kehidupan masyarakat, baik dari sisi kesehatan, sosial maupun ekonomi.
“Selanjutnya kita jangan sampai di musim El Nino ini saja, tetapi ke depannya juga kita tetap bersinergi karena ini adalah nyawa masyarakat kita. Di sini ada efek sosial dan ekonomi juga,” katanya.
(*).