PANGKALPINANG — Pemuda Muhammadiyah Kota Pangkalpinang mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak panik terhadap isu potensi kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang berkembang akibat dinamika geopolitik di Timur Tengah, khususnya terkait kabar penutupan jalur pelayaran Selat Hormuz. Organisasi kepemudaan ini menilai informasi yang beredar perlu disikapi secara bijak agar tidak menimbulkan kepanikan yang justru berpotensi memicu penimbunan dan mengganggu distribusi energi di daerah.
Imbauan tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral Pemuda Muhammadiyah Kota Pangkalpinang, Himbauan Ramadhan, yang menegaskan bahwa pemerintah pusat telah memberikan penjelasan terkait kondisi cadangan energi nasional. Ia menyebut masyarakat tidak perlu khawatir karena pemerintah telah memastikan stok BBM nasional, termasuk untuk wilayah Bangka Belitung, dalam kondisi aman dan terkendali.
Menurut Himbauan Ramadhan, sejumlah pejabat negara termasuk Ketua Komisi XII DPR RI telah menyampaikan bahwa ketersediaan energi nasional saat ini masih dalam kondisi stabil. Hal tersebut menunjukkan pemerintah telah melakukan langkah antisipatif terhadap berbagai dinamika geopolitik global yang dapat mempengaruhi distribusi energi dunia.
Ia juga menambahkan bahwa Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, telah menegaskan bahwa stok BBM nasional saat ini berada di atas batas minimum nasional dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat selama lebih dari 20 hari ke depan. Namun ia menegaskan bahwa angka tersebut merupakan stok berjalan yang terus diperbarui melalui proses distribusi dan impor energi secara berkelanjutan.
“Artinya stok tersebut tidak berhenti di angka 20 hari saja, karena pemerintah terus melakukan langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan pasokan energi nasional,” ujarnya.
Himbauan Ramadhan juga menjelaskan bahwa pemerintah telah menyiapkan langkah diversifikasi sumber impor minyak mentah untuk mengantisipasi dampak konflik global. Beberapa negara yang menjadi alternatif sumber pasokan minyak antara lain Amerika Serikat, Brasil, serta sejumlah negara di Afrika seperti Angola dan Nigeria.
Menurutnya, masyarakat juga perlu memahami bahwa ketergantungan Indonesia terhadap jalur Selat Hormuz tidak terlalu dominan dalam sistem energi nasional. Data pemerintah menunjukkan bahwa hanya sekitar 20 hingga 25 persen impor minyak mentah Indonesia yang melewati jalur tersebut.
“Artinya sekitar 75 persen pasokan minyak Indonesia berasal dari jalur dan wilayah lain di luar Selat Hormuz sehingga dampaknya terhadap ketersediaan BBM nasional tidak sebesar yang dikhawatirkan,” kata Himbauan Ramadhan.
Ia menegaskan masyarakat di Bangka Belitung, khususnya Kota Pangkalpinang, tidak perlu melakukan pembelian BBM secara berlebihan. Menurutnya, perilaku panic buying justru dapat menciptakan kelangkaan semu di lapangan meskipun pasokan energi sebenarnya masih tersedia.
Dalam momentum bulan suci Ramadan, Himbauan Ramadhan juga mengajak masyarakat untuk tetap tenang dan rasional dalam menyikapi berbagai informasi yang beredar di media sosial. Ia menilai Ramadan seharusnya menjadi momentum pendidikan karakter untuk menumbuhkan sikap bijak, tidak mudah terprovokasi, serta menjaga stabilitas sosial di tengah masyarakat.
Sementara itu, Ketua Pemuda Muhammadiyah Kota Pangkalpinang, Jazzkyanda, turut mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan penimbunan BBM yang dapat merugikan kepentingan publik. Ia meminta aparat penegak hukum dan instansi terkait meningkatkan pengawasan terhadap distribusi BBM agar tidak dimanfaatkan oleh oknum tertentu untuk mencari keuntungan pribadi.
“Pemuda Muhammadiyah Kota Pangkalpinang meminta aparat berwenang, termasuk kepolisian dan instansi terkait, meningkatkan pengawasan terhadap distribusi BBM guna mencegah praktik penimbunan yang merugikan masyarakat,” ujar Jazzkyanda.
Selain itu, Jazzkyanda juga menyoroti peran media dalam menjaga stabilitas informasi publik di tengah berkembangnya isu kelangkaan BBM. Ia berharap media dapat menyajikan pemberitaan secara proporsional dan tidak membesar-besarkan isu yang berpotensi menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat.
“Saya memahami media tentu ingin membuat berita semenarik mungkin agar dibaca publik, dan itu hal yang wajar. Saya juga pernah berkecimpung di dunia media sehingga memahami dinamika pemberitaan,” katanya.
Namun ia mengingatkan agar judul maupun narasi pemberitaan tidak sampai memicu kepanikan masyarakat. Menurutnya, informasi yang terlalu sensasional justru dapat menimbulkan kekhawatiran berlebihan dan mendorong masyarakat melakukan panic buying BBM.
“Kami berharap media juga ikut membantu menjaga kondusifitas daerah dengan menyampaikan informasi yang menenangkan dan edukatif. Jangan sampai judul berita justru membuat masyarakat panik terhadap kondisi yang sebenarnya masih terkendali,” tegasnya.
Jazzkyanda menambahkan bahwa kolaborasi antara pemerintah, media, dan masyarakat sangat penting dalam menjaga stabilitas sosial dan ketahanan energi di daerah. Dengan informasi yang berimbang dan edukatif, diharapkan masyarakat tetap tenang serta tidak mudah terpengaruh oleh isu yang berkembang di ruang publik maupun media sosial.