PANGKALPINANG – Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Brigjen Pol. Eko Kristianto S.I.K,. M.Si, mengungkapkan bahwa angka penyalahgunaan narkoba di Indonesia kemungkinan jauh lebih besar dari hasil survei resmi yang selama ini dirilis.
Hal tersebut disampaikannya saat menyoroti hasil survei nasional yang menunjukkan prevalensi penyalahgunaan narkoba masih tinggi sebesar 2,1 persen atau sekitar 3,3 juta orang yang kemudian meningkat menjadi sekitar 4,15 juta pengguna.
Menurutnya, realitas di lapangan menunjukkan potensi jumlah pengguna yang lebih tinggi dari angka tersebut.
“Setiap hari kami di lapangan melihat fakta yang terjadi. Menurut pandangan kami, kemungkinan pengguna narkoba jauh lebih banyak daripada hasil survei yang ada,” cetusnya.
Ia menjelaskan, perbandingan dengan survei internasional menunjukkan angka penyalahgunaan narkoba bisa mencapai sekitar 20 persen. Perbedaan yang cukup jauh ini, kata dia, terjadi karena penyalahgunaan narkoba merupakan persoalan yang sangat tertutup.
Lalu menurut dia, pengguna narkoba umumnya menyembunyikan perilakunya dari orang lain sehingga sangat sulit dideteksi.
“Permasalahan narkoba ini dimulai dari pribadi. Para pengguna tidak ingin orang lain mengetahui, sehingga lingkarannya sangat terbatas dan sulit terdeteksi,” katanya.
Pada pola penggunaan narkoba yang dilakukan secara tersembunyi, seperti penggunaan sabu yang biasanya dilakukan di dalam kamar, sementara ekstasi kerap digunakan di tempat hiburan malam yang tertutup.
Ia juga menyinggung besarnya jumlah narkotika yang berhasil diungkap aparat sebagai indikator tingginya permintaan di masyarakat.
Beberapa waktu lalu, Badan Narkotika Nasional berhasil menggagalkan penyelundupan sekitar dua ton sabu di perairan Riau. Di sisi lain, Polda Sumatera Utara juga mengungkap peredaran lebih dari satu ton narkotika.
“Kalau kita melihat jumlah barang yang ditangkap, berarti kita bisa memperkirakan berapa besar jumlah pengguna dan peminatnya. Bahkan kami juga menyadari, ketika dua ton sabu ditangkap, kemungkinan masih ada distribusi lain yang lolos,” jelasnya.
Eko bahkan menyinggung sejarah panjang aktivitas tambang timah yang menurutnya sejak masa kolonial telah memiliki kaitan dengan penggunaan zat tertentu oleh para pekerja tambang.
Ia menyebutkan bahwa sejumlah pekerja tambang menggunakan narkoba untuk meningkatkan stamina saat bekerja.
“Kemungkinan di setiap kawasan tambang itu penyalahgunaan bisa mencapai sekitar 80 persen. Ini tentu sangat memprihatinkan,” ungkapnya.
Ia mengingatkan bahwa dampak narkoba tidak hanya merusak kesehatan, tetapi juga berpengaruh pada kualitas generasi muda serta kondisi ekonomi masyarakat.
“Kalau generasi muda terpapar narkoba sejak dini, itu akan memengaruhi kesehatan, daya pikir, bahkan masa depan mereka,” ujar dia.
Dalam upaya penindakan, BNNP Babel bersama aparat penegak hukum juga melakukan operasi di sejumlah kampung yang terindikasi rawan narkoba.
Salah satunya di Kampung Suka Damai, Tanjung Ketapang, Kabupaten Bangka Selatan. Berdasarkan hasil survei dan data intelijen, wilayah tersebut sempat berstatus kawasan rawan narkoba.
Sebelum dilakukan operasi, aktivitas penjualan narkoba di kawasan itu bahkan disebut berlangsung secara terbuka dengan delapan lapak yang setiap hari menjual barang haram tersebut.
“Pembelinya. Kebanyakan para penambang,” timpalnya.
Melalui operasi gabungan bersama Polda dan instansi terkait, aparat berhasil menggerebek lokasi tersebut dan menangkap 11 orang pengedar yang kemudian diproses secara hukum.
Setelah penindakan, BNNP Babel melanjutkan dengan program pemulihan bagi masyarakat yang terpapar narkoba melalui rehabilitasi.
Saat ini fasilitas rehabilitasi di Bangka Belitung masih terbatas dan baru tersedia di Rumah Sakit Jiwa dengan kapasitas sekitar 20 pasien laki-laki dan delapan perempuan.
“Kalau ingin masuk harus antre. Padahal pemulihan tidak bisa ditunda,” tegasnya.
Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, BNNP Babel mengembangkan metode rehabilitasi berbasis religi. Program ini dilakukan melalui kegiatan itikaf selama 10 hari yang diikuti para peserta rehabilitasi.
“Jadi 10 hari itu mereka difokuskan pada pemulihan dan tidak lagi memikirkan narkoba. Alhamdulillah hasilnya cukup baik,” ujarnya.
Seluruh program rehabilitasi tersebut diberikan secara gratis dan melibatkan tenaga medis serta dukungan tokoh agama.
Eko juga mengungkapkan fakta memprihatinkan bahwa penyalahgunaan narkoba kini mulai menyasar anak-anak.
Ia mencontohkan kasus seorang siswa kelas tiga SMP yang diketahui telah menggunakan narkoba selama dua tahun.
“Namun setelah mengikuti rehabilitasi. Perubahan dan pemulihannya cukup baik,” katanya.
Sebagai langkah pencegahan, BNN RI juga menggulirkan program Ananda Bersinar atau Aksi Nasional Anti Narkoba yang menyasar kalangan anak-anak dan pelajar.
Program tersebut telah disosialisasikan melalui berbagai kegiatan, termasuk lomba dai dan daiyah yang diikuti siswa SD dan SMP di Bangka Belitung.
Selain itu, BNN juga mendorong integrasi kurikulum pendidikan anti narkoba di sekolah melalui program Integrasi Kurikulum Anti Narkoba.
Program ini bahkan telah diluncurkan oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah dan salah satu inisiatifnya berasal dari sekolah di Bangka Belitung.
Beberapa sekolah yang terlibat antara lain SMA Negeri 4 PKP, SMK Negeri 1 Pangkalanbaru, serta sejumlah SMP di Belitung.
“Di sekolah tersebut bahkan sudah dibentuk satgas anti narkoba. Dari situ kemudian berkembang menjadi gerakan bersama untuk pencegahan,” jelasnya.
Untuk itu, seluruh elemen masyarakat dapat bergandeng tangan untuk mencegah narkoba berkembang di Bangka Belitung.
“Ini tanggung jawab kita bersama. Demi masa depan Bangka Belitung yang lebih sejahtera dan generasi yang lebih baik, kita harus bersama-sama melawan narkoba,” pungkasnya.
(*).